Cari informasi

image image image image
KEJATI JATIM GELAR DIKLAT INTELIJEN DI KOARMATIM   Senin, 23/6  telah dibuka Pendidikan dan Pelatihan Intelijen Kejaksaan Tinggi Jawa Timur di Koarmatim Surabaya yang dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Martono, SH. MH. Yang didampingi oleh Asintel Kejati Jatim Andi Herman, SH.MH. Asbin Kejati Jatim Masnunah SH.M.Hum. dan undangan lain yang mewakili Koarmatim. Diklat Intelijen ini diikuti 65 peserta terdiri dari Kejaksaan Tinggi NTT, NTB, BALI dan Kejati Jatim Sendiri Tujuan dari terselenggaranya Kegiatan Diklat Ini adalah untuk meningkatnya keterampilan dan keahlian tentang tehnik dasar penyelidikan, pengamanan dan penggalangan Kejaksaan R.I. guna mendukung suksesnya pembangunan nasional. Pembangunan yang dapat menciptakan kondisi Negara yang dinamis. Dengan kondisi negara yang dinamis maka negara memiliki daya tahan dan daya tangkal terhadap setiap bentuk ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan baik dari dalam maupun dari luar negeri utamanya dalam penegakan hukum. Intelijen Kejaksaan RI. membantu melaksanakan ketertiban dan ketentraman umum, yaitu kejaksaan turut menyelenggarakan kegiatan    peningkatan kesadaran hukum masyarakat, pengamanan kebijakan penegakan hukum, pengawasan peredaran barang cetakan, pengawasan aliran kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan Negara, pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama,penelitian dan pengembangan hukum serta statistic criminal. Kegiatan Pelatihan ini dilaksanakan tanggal 23 Juni sampai dengan 28 Juni dan diharapkan dalam waktu singkat ini peserta bisa menggali ilmu intelijen dengan baik.
Komisi III : Posisi Jaksa Agung Seharusnya dari Jaksa Karir Dalam Seminar Nasional Komisi III (bidang hukum) DPR RI berpendapat bahwa jabatan Jaksa Agung seharusnya dijabat oleh jaksa karir. Selama ini, ketentuan menyebutkan jabatan tertinggi di lingkungan adhyaksa itu bisa diisi oleh orang di luar kejaksaan. "Jaksa Agung seharusnya dari jaksa karir. Seperti Kapolri yang dijabat oleh polisi karir," kata Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ir Tjatur Sapto Edy, di acara seminar nasional 'Posisi Ideal Kejaksaan dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia', di Hotel Pullman Surabaya, Kamis (19/6/2014). Tjatur Sapto Edy  juga sepakat dengan usulan Kejaksaan Agung (Kejagung) yang menginginkan otoritas sentral penanganan tersangka/terdakwa/terpidana yang berada di luar negeri di bawah kendali langsung kejaksaan. "Saat ini Rancangan KUHAP, KUHP dan UU Kejaksaan masih dibahas di dewan," ujarnya. Sebelumnya, Wakil Jaksa Agung Andi Nirwanto mengatakan otoritas sentral penanganan orang beperkara yang berada di luar negeri oleh kejaksaan diperlukan untuk efesiensitas. Selama ini, kendali tersebut berada di tangan Kementerian Hukum dan HAM. "Untuk penanganan yang lebih efesien," ujarnya. Asisten Intelijen (Asintel) Kejati Jatim Andi Herman mengatakan, selama ini birokrasi penanganan pihak beperkara yang berada di luar terbilan njlimet dan lama karena harus melewati meja Kemenkum HAM. Padahal, yang tahu persis pokok sebuah kasus adalah kejaksaan. "Karena itu kami berharap central authority ekstradisi dan pemulihan aset di luar langsung di bawah kejaksaan," ujarnya.
Hanya 20 Hari Tahanan Kejari Tanjung Perak, Agung Prasetya yang Kabur akhirnya Tertangkap Setelah 20 Hari kabur, pelarian terdakwa Agung Prasetya berakhir kemarin (11/5). Tim gabungan Intelijen  Kejaksaan Agung RI, Tim Intelijen Kejaksaan Tinggi Jawa Timur  dan  Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak dibantu oleh anggota Polres Pelabuhan Tanjung Perak dan Polsek Bubutan, berhasil meringkus residivis narkoba itu di sebuah kamar kos di Jalan Anggrek, Desa Kramat Jegum, Trosobo, Sidoarjo. Tim itu awalnya mengalami kesulitan saat memetakan posisi Agung. Sebab, wilayah tersebut cukup terpencil dengan jalan yang tak cukup lebar. Setelah melakukan penyelidikan hampir tiga jam, tim akhirnya bisa memastikan keberadaan Agung. Yaitu, sebuah rumah yang relatif terpisah dengan tempat tinggal lain di sekitarnya. Rumah tersebut cukup tersembunyi karena untuk menjangkaunya harus melalui gang yang hanya bisa dilewati satu mobil. Nah, Agung menyewa salah satu kamar. Saat itu pintu kamar Agung terbuka separo. Petugas yang sudah mendapat kepastian langsung menggerebeknya. Ketika ditangkap, Agung sedang tidur-tiduran di ranjang sambil menelepon. Saat itu pria yang menjadi buruan selama 20 hari tersebut mengenakan celana kombor warna krem dan bertelanjang dada. Petugas dengan mudah mengenali Agung  sebab, tato di tubuhnya masih seperti semula. Salah satu ciri Agung yang dipegang jaksa dalam melakukan perburuan adalah tato yang terlukis di bagian tangan kirinya itu. Agung mengaku bahwa selama dalam pelarian, dirinya tidak kabur ke luar Jatim. Sesaat setelah kabur dari Rutan Medaeng, dia naik bus menuju Mojokerto untuk bertemu dengan saudaranya. Khawatir ketahuan, dia pun langsung berpamitan. Tapi, tidak ke Surabaya, Agung menuju Trosobo, Sidoarjo. Merasa menjadi target operasi (TO), Agung memilih tidak naik kendaraan umum. Dia berjalan kaki dari Mojokerto hingga Trosobo. Sesampainya di Trosobo, dia tidak langsung menyewa kamar kos atau mengontrak rumah karena takut ketahuan. Namun, Agung rupanya tak tahan menggelandang terus-menerus. Akhirnya, dia menyewa kamar. Kekhawatirannya terbukti. Baru dua hari tinggal di kamar kos, keberadaannya tercium sehingga dia ditangkap tim gabungan. Buron berusia 30 tahun itu pukul 17.00 Wib dijebloskan kambali ke Lapas Kelas I Surabaya di Medaeng. Bahwa , Senin (21/4) Agung Prasetyo kabur saat hendak dibawa ke PN Surabaya untuk disidangkan. Terdakwa yang telah tiga kali terjerat kasus narkoba itu berhasil melarikan diri dari pengawalan  tahanan. Rencananya, hari ini (12/5) majelis hakim PN Surabaya membacakan putusan perkara Agung. Agung dijerat pasal 144 ayat (2) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya cukup berat. Sebab, jaksa penuntut umum (JPU) Nining Dwi Ariany menuntutnya dengan 12 tahun penjara. Dia juga harus membayar denda Rp 1 miliar subsider dua bulan penjara. (Tim Website Kejati Jatim)
Laskar Putih-putih Demo Kejati, Empat Peleton Sabhara Disiagakan Sekelompok massa berbaju putih-putih mendemo kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, Selasa (6/5/2014). Potensi ricuh, empat peleton personel Sabhara dari Polda Jatim dan Polrestabes Surabaya disiagakan. Semula, massa membentuk forum orasi di depan kantor Kejati. Menggunakan truk sebagai panggung, massa berbendera Majelis Taklim Jamiyah Tajul Muslimin Jatim itu meneriakkan tuntutannya. "Kami ingin masuk atau kisruh terjadi," kata orator aksi. Massa kemudian memaksa masuk dengan cara menggoyang pintu akses menuju halaman dalam gedung Kejati. Sebagian menaiki pagar dan berancang-ancang masuk dengan cara melompati pagar. Melihat tanda-tanda ricuh, puluhan polisi disiagakan di depan pagar. Massa kemudian diperbolehkan masuk ke halaman dalam gedung. Berhadap-hadapan dengan polisi, massa kembali berorasi. Dalam tuntutannya, ustaz Mala Khunaifi, menyampaikan bahwa kedatangannya mendesak aparat penegak hukum berbuat adil dalam kasus sengketa lahan di Tambak Sawah, Sidoarjo. "Pejabat dan aparat yang membela rakyat kita dukung. Pejabat dan aparat yang membela cukong-cukong demi uang kita lawan," teriak Mala dan disambut pekik takbir peserta unjukrasa. Setengah jam berorasi, perwakilan massa kemudian dipersilakan masuk menemui pejabat Kejati di ruang intelijen. Massa ditemui oleh Asisten Intelijen Andi Herman dan tiga orang Jaksa pada Aspidum . Mereka meminta kejaksaan bersikap adil dalam kasus sengketa lahan di Tambak Sawah Sidoarjo, antara Sa’i dengan Hendry J Gunawan. (Tim Wibsite Kejati Jatim)

Kegiatan Kejaksaan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Tentang Kejaksaan Tinggi Jawa Timur

Kejaksaan Tinggi Jawa Timur adalah Kejaksaan di ibukota Provinsi Jawa Timur dengan wilayah tugas meliputi provinsi yang bersangkutan. Kantor Kejaksaan Tinggi ini berada di Jl. Jend. A. Yani No. 54-56, Surabaya Telepon (031) 8291066.

Selengkapnya

Move
-

Artikel Kejaksaan

Informasi
Parcel, Gratifikasi yang Dilarang!

Parcel selalu menjadi polemik menjelang hari raya Idul Fitri seperti sekarang ini. Banyak kalangan menilai, pejabat negara dan pegawai negeri sipil (PNS) seharusnya tidak menerima parsel. Polemik semacam ini perlu disikapi dengan penjelasan yang obyektif, karena...

Selengkapnya ...
Bila Hakim Tak Netral

Di dalam dunia pengadilan instansi yang memegang kekuasaan tertinggi adalah Hakim. Hakim ini memegang dan mengendalikan ritme peradilan. Karena kekuasaanya tersebut terkadang seorang hakim dalam menjalankan tugasnya baik dalam pemeriksa saksi-saksi maupun barang...

Selengkapnya ...

Pejabat Struktural

  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow

Jajak Pendapat

Bagaimanakah pelayanan Kejaksaan menurut Anda?

Iklan Layanan

Copyright © 2010 - Kejaksaan Tinggi Jawa Timur

Login Form